Surat, aku,iblis, dan kau

April 25th, 2007 by gagas-idea

     “Kesadaran adalah matahari” lantang teriak Si Burung Merak Rendra “Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” lanjutnya tak kalah tegas!

     Aku sadar, Matahari yang bila harus kita datangi, memerlukan waktu berjuta tahun perjalananan cahaya, selama ini telah akrab dengan aku dan kau. Sehingga tak perlu kuulang dan kunyatakan betapa ia begitu besar, membara, panas membakar apapun yang ada di sekitarnya. Tak perlu pula kuulang bahwa, ia menjadi energi aktif yang menyebabkan air tak malu untuk beranjak dari kubangannya, melangit berkumpul menjelma awan dan kembali, rela, turun dalam deras membasahi bumi yang kerontang hingga kembali segar.

     Kita, aku dan kau, jelas bukan Matahari dan bukan pula penyembah Matahari.

Aku dan kau adalah sepasang manusia yang kebetulan berbeda jenis kelamin dan bahkan perangai. Namun kita, aku dan kau, sama-sama butuh sinar dan sengatan matahari. Karena itu pula kita tinggal dalam satu bumi. Bumimu dan bumiku adalah satu. Namun aku dan kau jelas tak satu.

Beda !

Kita beda !

Sekali lagi, bedaaaaaa …

     Lantas apa yang memaksa kita harus saling bersapa, wong segalanya nyaris berbeda ! Untuk apa berpayah-payah saling memahami perbedaan kita,  bukankah berkali-kali telah kita coba namun hasilnya tak lebih dari sebuah jurang yang kian dalam membantang, sehingga kita harus saling berteriak untuk bicara ? Mungkin masih beruntung kita hanya saling berteriak. Bagaimana kalau kita saling menarik hingga akhirnya bersama tercampak di antara jurang menganga yang kita cipta ?

     Mungkin itu kesahmu tentang segala beda kita. Mungkin itu dalihmu untuk menyikapi segala perangai aneh yang tak juga mampu bersua…

Namun itu adalah anganku. Aku tak tahu pasti apakah engkau benar-benar berpikir semacam itu ? Karena aku dan kau berbeda, sehingga pandanganku tentangmu dalam memandang sesuatupun juga akan berbeda.

“Maka makin lebarlah, jurang yang memisahkan kita,” keluhku lunglai.

“Lebar dan curam !” tambahmu tak kalah lunglai.

“Kalo begitu mari kita saling berperang hingga salah satu dari kita tercampakkan berkubang amis darah menghitam,” bisik iblis yang berada dalam bilik batin kita masing-masing.

     Memuncaklah, semangatmu dan semangatku untuk beradu, menetesakan darah masing-masing.Hasilnya, memang belum setetes darahpun yang mengalir dari tubuh kita masing-masing.

     “Ayo, terus sakiti dia hingga lukanya kian menganga. Agar dia tahu bahwa luka memang menyakitkan ! Hingga ia sadar untuk tak menyakitimu,” kian merdu bisikan itu dalam gendang telinga kita.

     Kitapun kembali merangsak penuh  kemarahan dan kecewa menghujat, mencela, menghantam dan kita berdua terluka.

     Memang darah belum mengalir. Tapi tidakkah, kaulihat peluh membasahi mata kita ? Sadarkah kau peluh yang seharusnya menetes dari berjuta pori itu, membangkang menolak menjalankan titahnya, mengalir deras di antara pelupuk mata kita berdua. Yah, mata kita berdua hingga memerah saga! Akankah kita terus memaksa bertarung untuk menegakkan beda kita masing-masing?

     “Iya dong, masak berhenti bertarung. Tunjukkan kau yang paling benar! Buat dia tersuruk-suruk, menyerah payah !” kembali suara merdu melantun bertalu di gendang telingaku dan telingamu.

#######################

     Seorang perempuan beralis mata congak, duduk lesu, menunggu jarum jam pendek menunjuk pada angka 8. Temaram telah menyelimuti bumi. Lantun riang para belia pelan menghilang bersama kantuk yang bersarang di lekuk pandang mereka.

     Seorang pria kumuh, lunglai kan kaki terkapar di tanah, menatap awan yang terus berarak dalam kelam, memandang berjuta bintang yang tak lagi mampu pantulkan sinar ke dalam lorong-lorong angkasa jiwa. Deru bising riuh laju transportasi kota meliuk menjauh namun tak pula redup oleh tabir waktu yang mulai merambat turun.

     Hanya ada ngungun yang terus terpancang tegak mencari angin yang kan segarkan jiwa mereka yang terluka, terlemparakan dalam nesatapa.

Jakarta  menjelang fajar tiba

Mari Bicara Seksualitas!

April 18th, 2007 by gagas-idea

    Mohctar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia, yang sangat tajam mengupas sifat manusia Indonesia, mengutip sebuah pantun lawas dari Minangkabau.

Ke teluk sudah

Ke gunung sudah

Ke Mekah saja yang belum

      Memeluk sudah

      Mencium sudah

      Menikah saja yang belum

    Budayawan yang berjuluk wartawan jihad itu, sepertinya hendak mengkhabarkan bahwa praktik seks bebas, jauh-jauh hari telah terjadi di negeri ini. Dan itu terekam dalam jejak pantun yang dikutipnya. Secara telak, Mochta Lubis, merontokkan pendapat sebagian orang yang mengatakan seks bebas bukanlah budaya manusia ndonesia.

     Tanpa bermaksud mengabaikan persolan moral, selayaknya seks dilihat sebagai fakta sosial. Sehingga kacamata yang hitam putih dalam melihat praktik seksualitas di sekitar kita, perlu segera ditukar dengan dengan kacamata yang lebih berwarna dengan cara berpikir yang terbuka, open mind.

     Perilaku seksual manusia sebenarnya merupakan fenomena yang beragam, baik secara geografis, konteks sosial budaya, kegiatannya, dan bahkan dipersepsikan berbeda antar individu.

   Aktivitas seksual individu terkait dengan faktor internal dan eksternal. Karenanya bicara soal seks, perlu pemahaman yang komprehensive atas seksualitas yang tidak memfokuskan pembahasannya hanya pada fenomena level individual, sebagai unit analisis.

   Perilaku seksual bukanlah perilaku individual karena selalu membutuhkan kehadiran orang lain, minimal satu orang. Pun bahkan saat masturbasi ia juga membutuhkan ”kehadiran” yang lain. Artinya perilaku seksual merupakan perilaku sosial, karena :

  • Melibatkan negosiasi dan interplay
  • Kompromi pengharapan dan pengalaman antar individu yang terlibat
  • Kemitraan seksual atau dyadic sebagai unit paling esensial dalam studi seksualitas.
  • Selalu membutuhkan”kehadiran” yang lainnya.

     Karenanya, berbicara soal seksualitas selayaknya tidak lagi terjebak pada orientasi faktor biologis dan psikologis. Tapi lebih menekankan pada dimensi-dimensi sosial, eksternal, relasional dan dimensi publik.

    Setidaknya ada tiga pisau analisis yang dapat kita gunakan untuk membedah seksualitas sebagai fenomena sosial : (1) Sripting Theory, (2) Choice theory, dan (3) Network Theory.

    Dari ketiga teori tersebut di atas, mari kita mencoba menggunakan pisau analisis scripting theory ; penjelasan atas sexsual content. Pendekatan ini berangkat dari kritik atas cara pandang yang semata-mata menganggap faktor sosial sebagai penghambat kecenderungan seksual. Ortner and Whithead serta Herdt and Stoller berujar bahwa proses sosial budaya berperan sangat mendasar dalam mempengaruhi persepsi kita akan seksualitas dan bagaimana kita mengkonstruksikan dan menafsirkan fantasi dan pandangan-pandangan seksual kita. Faktor biologi hanya berpengaruh kecil atas perilaku seksual.

Beberapa asumsi dasar :

  1. Perilaku seksual cenderung ‘lokalitas’
  2. perilaku manusia bukan karena dorongan insting biologis, tetapi lebih karena pengaruh budaya (skenario budaya)
  3. Pola perilaku seksual merupakan hasil proses akulturasi dengan budaya yang dianutnya.
  4. Perilaku seksual bukan semata demi tuntutan sekenario budaya, tetapi juga dimungkinkan telah termodifikasi sesuai dengan  kebutuhan-kebutuhan individu.

     Berdasarkan empat prinsip di atas, skenario seksual memfokuskan diri pada perbincangan sebagai berikut :

  • Dengan siapa individu berhubungan seks
  • Kapan dan dimana
  • Apa yang seharusnya mereka lakukan
  • Mengapa mereka melakukan hal-hal tersebut

    Tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, tak hanya dikaitkan dengan skenario individu, namun selalu dikaitkan dengan skenario budaya. Pemahaman atau keyakinan individu menyangkut domain seksualitasnya berdasar seknario budaya.

    Kata kuncinya dalah adanya hubungan timbal balik antara individu dengan aktor-aktor yang merepresentasikan budaya kehidupan seksual seperti media massa, tokoh agama, pendidik, peneliti, aktivis LSM, pun bahkan para pesohor dari dunia hiburan dan seterusnya yang secara kontinyu mereproduksi serta mentransformasi kehidupan seksual di masyarakat. 

    Sekadar contoh : Promosi penggunaan kondom dalam aktifitas seksual sebagai bagian dari kegiatan pencegahan penyebaran HIV dan AIDS perlu pengkondisian adanya perubahan skenario tentang perilaku seksual individu. Jika sejumlah orang bersikap positif atas skenario baru, tentunya akan berpengaruh pada kesehatan seksual, termasuk menurunkan kasus unwanted pregnancy, aborsi, penyebaran IMS, HIV dan AIIDS.

    Secara singkat, prespektif ini secara tegas membedakan antara (1) Skenario budaya (2) Skenario antar pribadi (3) Skenario pribadi (makna individual atas interpretasi dari skenario budaya) yang kemudian ketiga skenario itu dihubungkan satu dengan yang lainnya. Sumbangan penting dari pendekatan ini adalah perlunya membedakan antara persepsi dan perilaku yang terkait dengan faktor kondisional/situasional.

    Jadi, bicara seksualitas bukan sekadar soal gaya 69, doggy style, mandi kucing dan besar kecilnya alat vital bukan. Walaupun memang ada kalanya itu memang lebih menarik dibicaran hehehe….

Smg, 19 April 2007

Nak, Malam Ini Kudengar Tangis

April 18th, 2007 by gagas-idea

Malam ini aku dengar tangis seorang bocah, memangil-manggil nama ayah dan ibunya bergantian. Suaranya serak, karena tangisnya yang berkepanjangan. Sementara suara sang ibu yang tak kalah parau terus meracau, berteriak-teriak penuh amarah kepada sang suami yang hanya dapat terpekur, duduk di atas ranjang papan tua dengan kasur apak. Sang lelaki berbadan kurus dengan kaos lusuh itu sesekali menarik nafas panjang, melepas kacamata tebalnya yang tak lagi sempurna. Salah satu sisinya pecah, dan gagangnya diplaster agar tetap bisa ia pakai.

Ia mencoba untuk menyela, tapi tak pernah usai dengan sempurna kalimat yang hendak ia sampaikan. Ia sadar, tak bisa meredakan amarah sang istri dan membuat diam suara parau tangis anaknya yang belum lagi genap 6 tahun.

Nyaris 4 tahun ini ia hanya bekerja serabutan. Tak cukup untuk membiayai hidup dia, istri, anak perempuannya yang belum genap berusia 6 tahun, dan dua kakak lelakinya yang masing-masing baru duduk di kelas 4 Sekolah Dasar dan kelas 2 SMP.

Ini tahun ajaran baru, buku baru, seragam baru, iuran dan tetek bengek perlengkapan sekolah yang sangat murah bagi para tuan dan puan kaya, namun sangat berat baginya. Tangis sang balita dan serak parau istrinya yang tak lagi mampu menahan beban himpitan yang terus saja berdatangan, secara bersamaan, ia maklumi dengan hanya menunduk kelu.

Tangis bocah perempuan manis belum genap 6 tahun itu masih terdengar. Sangat sendu, ia memanggil-manggil nama ayah dan ibunya, sambil terus berisak. “Ibu, ibu, ibu… ayah, ayah, ayah…,” ia kebingungan melihat kedua orang yang sama-sama mencintainya itu berseteru. Ia merindui peluk keduanya, yang sering ia rasakan, walau peluk itu datang tak selalu bersamaan. Ia ingin merasakan rasa kasih dari kedua oarng tunya yang papa yang tak kalah dahsyat dibanding kasih sayang orang tua keluarga mewah, rekaan mimpi sutradara payah! Yang sering ia lihat di kaca telivisi berwarna di rumahnya yang mulai kusam.

Aku ikut menangis. Sungguh, tangisnya yang tersedu-sedu menampar batinku. Aku menangis, kulihat anak dan istriku lelap tertidur, tak terganggu sedikitpun oleh  berisik tangis dan suara parau istri tetangga. Aku menangis. Aku datangi bayiku yang baru satu tahun 4 bulan yang lelap dalam tidur. Aku cium keningnya, air mataku meleleh.

Nak ayahmu malam ini menangis. Karena temanmu yang belia tengah tersedu-sedu.

Nak ayahmu menangisi tetangga yang berbagi tembok rumah dengan kita. Mereka tengah galau dengan beban kehidupan.

Sepeda tua, lelaki kurus, memboncengkan perempuan yang sering tampak kuyu, dan seorang bocah perempuan belia yang manis saat tertawa, terlintas di benak. Itu tetangga kita nak, sering kita lihat lewat saat kita duduk di teras rumah kontrakan kita yang sempit, yang menjulur di jalanan gang kampung kita yang padat lalu lalang motor.

Nak, bocah itu sering masuk ke rumah kita, ia sering mengambil makanan kecil langsung dari toples kita tanpa permisi. Dan aku, ayahmu, sering masam muka karenanya, ia juga sering memainkan mainanmu yang berserakan, dan aku ayahmu juga cemberut karenanya.

Namun nak, malam ini ayah menangis karenanya. Suaranya begitu sendu, seperti tangismu. Dan berjuta tangis bocah-bocah di dunia lainnya. Ia begitu terluka, walau ia sendiri belum tahu makna luka hati.

Nak… ayah ingin kelak bila kau dewasa, bangunlah dengan kesadran penuh, ada temanmu yang menangis sendu saat kau tertidur lelap. Sadar saat kau tertawa lucu sambil menepuk perut yang kenyang, temanmu kelaparan. Lakukanlah sesuatu jangan hanya bisa menangis seperti ayahmu malam ini. Lakukanlah sesuatu nak…..

Nak, esok pagi saat kita kembali duduk di teras berharaplah semoga sobat kecilmu, kembali tertawa riang di boncengan sepeda tua bersama ayah ibunya yang kembali akur tegar, menelusuri jalan kehidupan.

Di ujung 12 malam

Midden Java, 16 Juli 2004

N…

April 17th, 2007 by gagas-idea

N…

Kucoba terus menumpuk segala anganku hingga terpuruk, berselimut debu apak hingga tak lagi ada, tarikan napas panjang yang hanya tumbuhkan segala imajinasi yang membuatku luka. Mendorongku terpuruk ke pojok rolong gelisah tak berujung.

N…

Ada kesadaran di batinku. Dan itu hanya melukaiku. Seperti beribu panah yang bergantian memburu, menusuk, menghunjam tiap sisi ragaku. Aku harus segera lari pergi. Pergi jauh dari sapuan indahnya pancaran cahaya rembulan yang memang tak laik kurasakan.

N..

Jujur, aku tetap merindui segala pantulan cermin kalbu walau hanya silaukanku. Salahkah aku?

N…

Limpahkan padaku setangkai doa agar gelisah itu tetap ada. walau hanya mekarkan galau dan duka.

N…

Maafkan segala kelancanganku. Moga beribu panahmu terus terpa aku hingga segera sadar dari segala mimpi yang berkepanjangan ini.

Dan bilakah kau kan, bersedia bidikkan satu saja untukku agar kutahu, saatnya aku harus beradu dengan debu mencari … ruang istirah yang sakinah. Bersamamu.

Ada beribu kata yang kusekat agar tak menghambur ke haribaanmu wahai kau perempuan beralis congakku. Ingin kuhapus segala cermin di benakku agar tak ada lagi bayang yang terus memantul, silaukan aku hingga terus bergumul dengan galau.

Ngemut Inten

April 17th, 2007 by gagas-idea

Seorang kawan, dalam sebuah diskusi tentang politik lokal yang sangat hangat, dari awal hingga usai, hanya diam. Tidak biasanya dia begitu. Berdasarkan pengalaman di forum-forum diskusi yang kami hadiri bersama, dia pasti nyerocos melemparkan pertanyaan dan pernyataan kritis, nyaris ngeyel, bertele-tele. Mendominasi diskusi!

Saya semula menduga, ia tengah berpikir keras mengumpulkan argumentasi terbaiknya untuk menambah hangatnya diskusi berkala yang dilakukan oleh teman-teman ”ngaktivis” Semarang yang datang dari beragam latar belakang, seperti jurnalis, mahasiswa, LSM, buruh, hingga warga sekitar tempat diskusi dilangsungkan. Tapi hingga usai tak secuil gagasanpun terlontar dari mulutnya.

Oh, ya, kalo tingkat partsipasi kehadiran warga dalam diskusi berkala para ngaktivis ini cukup tinggi jangan heran, bukan apa-apa, mereka punya alasan sendiri, kata mereka asyik juga melihat orang diskusi yang kadang berapi-api hingga menggebrak lantai, maklum diskusi dilakukan dengan duduk di tikar, lesehan melingkar tak ada meja jadi tak mungkin menggebrak meja. Memang tak jarang saking panasnya, sumpah-serapah ditujukan pada peserta diskusi yang dianggap tak sejalan, sambil mengacung-acungkan jari ke wajah “lawanya” tak kalah seru dengan adegan di DPR. Tapi belum pernah ada adegan membanting piring yang penuh berisi penganan seperti kacang rebus, pisang goreng, tahu sumpel, dan kadang kerupuk! Kalaupun itu terjadi, sebenarnya tak mengapa, karena piring tempat menaruh baragam penganan itu, terbuat dari plastik yang beberapa telah lusuh warnanya.

”Asyik mas, nonton diskusi. Walau kadang tidak mudeng, tapi tetap aja asyik”.

”Iya, lebih menghibur nonton diskusi di sini daripada di TV,” timpal yang lainnya.

“Bener, bahkan dibanding acara sinetron, lebih enak nonton diskusi di sini, dapat camilan gratis lagi,” sahut lainnya. Yang di-amini dengan tawa kompak yang lainnya.

Saya suka istilah mereka, “menonton diskusi”. Benar-benar ungkapan genuine, original!

Memang asyik, apalagi bila suasana memanas, eh tiba-tiba ada yang nyeletuk membelokkan topik sehingga langsung berbalik menjadi ger-geran, saling lempar joke hingga terbahak-bahak. Setelah itu, menghangat lagi. Moderator dikusi para ngaktivis ini, memang patut dipuji, handal menggiring topik dan menjaga suasana. Tak kalah hebat dibanding dengan moderator di tivi-tivi, semacam Rosiana Silalahi atau Andi F Noya, maupun Efendi Ghozali akademisi yang mencoba jadi pelawak.

Cuma, bagi saya pribadi, memang ada yang kurang dengan diskusi malam ini. Salah seorang singa tikar (karena nggak berdiri di podium, cuma lesehan di tikar, jadi tak layak disebut singa podium), kok tiba-tiba diam, hanya ikut terbahak-bahak ketika mendengar anekdot dan sesekali tersenyum sambil mengangguk-agukan kepala di tengah dialog yang berlangsung, itupun senyum tertahan. Alamak…..

Oh, iya yang beda dari biasanya pula, kali ini dia membawa buku tulis, dia tampak rajin menulis di buku catatan yang lusuh, seolah notulen. Padahal, sudah ada petugas notulen. Moderator beberapakali memancingnya, “Bung Gagah, gimana nih, menurut pengalaman atau pengamatan Anda?” Tapi ia cuma tersenyum, omong sedikitpun tidak, hingga waktu bicara diambil oleh peserta diskusi lainnya. Dan, tak seperti biasanya, berang bila waktu bicaranya diserobot, kali ini ia tersenyum.

Penasaran, usai diskusi saya dekati dia.

“Gimana Bung, sakit ya?”

“Enggak, aku sehat kok,”

“Topik diskusinya membosankan banget…,” pancing saya.

“Enggak, bagus dan sangat menarik!” Sautnya.

Menatap raut wajahnya, saat ngomong itu, saya tak bisa mengatakan dia basa-basi untuk mencoba mengelabuhi perasaanya, itu bukan tipikalnya.

”Hahaha…” tiba-tiba ia tertawa. “Pernah dengar istilah ngemut inten?” tanyanya. Belum sempat saya ngomong, dia dah berujar lagi, ”ngemut inten itu bahasa jawa, artinya mengemut berlian. Untuk menggambarkan bahwa orang yang banyak diam bukan berati tak tahu apa-apa, atau tak berminat terhadap topik pembicaraan yang tengah berlangsung, tapi dia memilih diam karena ingin menyimak untuk mendapatkan sesuatu dan tak ingin atau belum ingin gagasannya yang bagus bak intan diketahui oleh yang lain,” terangnya panjang lebar.

”Ooo…” gumam saya. ”Berarti kamu punya gagasan yang hebat dong, apa tuh?” selidik saya. Dan, dia hanya tersenyum sambil berkemas.

”Dancuk! Jangan lama-lama ngemut intenya ntar tersedak,” umpatku akrab. ”Lah, kamu kok yakin kalo yang kamu simpan dalam mulut kamu itu berlian, kalo ternyata cuma batu kerikil gaimana coba?” Cerocosku.

Dia bergeming, hanya tersenyum, mengulurkan tangannya bersalaman tanda ingin segera hengkang.

Jogja, 29 Oktober 2006